Langsung ke konten utama

#1 Traveling Irit : Daejeon Expo-Park, South Korea

A Photo has taken in Daejeon Expo-Park

Kali ini saya akan flashback sedikit ke belakang, di tanggal 2 September 2016.  Dengan kehendak Tuhan. Tiba-tiba saya dipertemukan dengan tiga orang Banglades "aneh" hehe :) Karena kami satu Bus saat pembuatan Bank account untuk Hanna Bank (Bank domestik terbesar di South Korea). Sore terlalu suntuk, sementara kelas padat beserta hal yang "sangat tidak membuat nyaman" sampai dipertemukan di ruang Dean saat itu, membahas beberapa hal. 


David, Me, Tafim, Rajib


Tiga orang ini, akan naik taksi. Dengan nada menyambut, mereka mengajak pulang naik Taksi bersama. Karena masih banyak antrean mahasiswa lainnya yang belum beres dengan proses administrasi. Dengan gesit langsunglah saya ikut dengan mereka. Tanpa mengkhawatirkan apapun (sebab hanya saya sendiri sebagai perempuan)   Sampailah singkat cerita di SolGeo, waktu menunjukan pukul 8 malam. Dengan tawaran yang pas, (karena sangat lapar) hehe. Mereka mengundang saya masak di dapur. Menunya saat itu Chicken-Curry ala Banglades. Tidak jauh beda dengan ayam bumbu karinya Indonesia. :D


Esok paginya, berlanjut. Saya biasanya datang ke Rooftop, sekedar menenangkan diri melihat permukaan daejeon dari atas. Tiba-tiba datanglah lagi tiga banglades itu. Mengajak saya keliling taman dan akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Daejon Expo-Park. 


Mengutip penjelasan Culture Tourism of Daejeon, "It connects the greens of the Daejeon Government Complex and the Expo Science Park and it is used as educational spaces for youth and as relaxing green spaces for the all citizens. It consists of Seowon (West Garden) (North of Daejeon Museum of Art), and Dongwon (East Gardan) (North of Pyeongsong Education Hall). It includes 30 theme gardens such as an wild flower garden, Mugunghwa garden, evergreens garden, rock garden, and a pine garden."


Kami pergi dari Solge jam 10 siang. Kemudian berjalan sampai main-street dan jangan
lupa bagi yang belum mempunyai "Transportation Card" Harus membeli dulu. Karena itu digunakan dalam system Bus dan Subway di sini, juga Taksi bisa. Karena Systemnya seperti E-Money namun di sini lebih dikenal T-Money. Harga sebuah kartu KRW 4.500 saya beli di GS25 memang lebih mahal ternyata karena sahabat saya mendapatkannya dengan KRW 2.500. Di sini banyak sekali swalayan kecil serupa Alfamart atau Indomart dengan brand GS25, C&U, dsb. Kemudian lakukan deposit uang. Minimal pengisian KRW 1000 sampai KRW 90.000. Saat itu saya isi KRW 20.000. Untuk Bus rata-rata sekali tap untuk jarak yang tidak terlalu jauh yakni KRW1.250-1.300. Untuk mengetahui info selengkapnya mengenai T-money (here .

Setelah kedua teman saya membeli T-Money. Kami melanjutkan naik Taksi dengan niat tadinya langsung ke Daejeon Terminal. Tapi taksi yang kami tumpangi ternyata nyasar ada miss com. Dan akhirnya kami turun dan menunggu taksi selanjutnya. Dan kembali dibayari taksi oleh Rajib dan Tafim.


Singkat cerita, naiklah kami ke Taksi selanjutnya. Drivernya begitu ramah, ibu-ibu. Dan beliau memberi kami permen. Nah benar-benar lupa, saya makan begitu saja. Padahal kondisi saat itu hari minggu dan saya lagi shaum. Hehe.. ingat-ingat pas permennya sudah habis saat menunggu bus selanjutnya. Di Bus seperti Busway Jakarta. Bedanya, kursi berwarna kuning diperuntukan untuk lansia dan ibu hamil. Sedangkan, kursi bewarna biru diperuntukan untuk anak muda dan dewasa yang masih kuat. 


Perjalanan lumayan lama, dibeberapa stop halte. Alhasil sampailah kami turun di Daejeon Expo. Di sana ada Amuse Park, seperti permainan-permainan anak kecil dan banyak iconic animasi. Namun ternyata sudah collapse tapi saya tidak bersedih karena saya menemukan banyak spot menarik di sana.


Penampilan teman Elmo dalam Exhibition



Pertama, kami memasuki Exhibition mengenai penangan dan teknologi yang berhubungan dengan air. Hebatnya acara itu memang dibungkus untuk anak-anak. Jadi banyak anak-anak berada di sana. Tidak ketinggalan ada pertunjukan Elmo (sayangnya saya hanya bisa menikmati visual dan audio selebihnya saya tidak mengerti bahasanya) Hehe :)


Daejeon Expo Tower
Kedua, Kami menaiki Iconic Daejeon Expo yakni the representative tower of Daejeon World Expo. Harga masuk dengan lift yakni sekitar KRW 2.500. Nah lagi-lagi saya dibayari masuk oleh Rajib (teman banglades: Rajib, Tafim, dan David). Irit kan ya! Hehe. Naiklah kami ke atas. Di Lift seolah kami berada di galaksi. Karena dekorasi dinding dan pernak-pernik galaksi membuat ekspektasi saya semakin tinggi. 






Sayang di sayang, ternyata sepi sekali dan kaca jendela kurang terawat bersih. Membuat blur pemandangan Daejeon dari atas. Dan hanya sedikit permainan edukatif sciencetist. Karena kondisi saya yang masih shaum, shaur dengan segelas air putih, dan berjalan panjang cukup menguras haus. :) Dan saya sedikit tiduran di sini. Memanfaatkan kursi pengunjung.


Daejeon Scene



Bobo Manis di Kursi Pengunjung
Ketiga, menikmati taman Expo-park cukup menyenangkan. Mengambil beberapa gambar di sini. Sekalipun memang sepi sangat. Ya.. namanya juga traveler irit. Terjun ke tempat baru, menikmati atmosfer baru, menyapa orang asing, membagi senyuman, lalu photo-photo sudah sangat menyenangkan! 




Keempat, berjalan di Sport-track Expo Park. Banyak sepeda keren melintas. Jadi ingat, Scott di rumah (hiks). Di bawah jembatan besar, memutari danau, dan menaiki salah satu perahu air. Untuk 20 menit pertama gratis! Kami berempat menaikinya dengan semangat.


Expo-Park Daejeon



Persiapan tempur di kapal gowes



Daejeon Expo-park and me



Nemu juga Amsterdamnya Korsel!


Rajib, Tahim, and Me.

Kelima, waktunya pulang. Waktu menunjukan pukul 5 sore. Sebentar lagi buka (yeaaah!!) dan kami mampir di Daejeon Terminal, membeli beberapa makanan dan minuman. Nah, di sini kita bisa temui Asia-Market. Ada product dari beberapa negara di Asia termasuk Indonesia. Hanya beberapa tidak banyak banyak. Saya membeli Teh Botol Sosro ukuran 1,5 lt. seharga KRW 2.500, Cap Kaki Tiga kaleng seharga KRW 4.000, dan Luwak White Koffie seharga KRW 3.500 (Karena tidak ada pilihan kopi lain). Sambal, kecap, beberapa bumbu instan ala Indo bisa ditemui juga di sini.


Fried Chicke Chacanaya KRW 6.000

Saya salut sama orang-orang Banglades ini. Mereka tidak pernah perhitungan. Membeli makanan bersama-sama untuk dipasak bersama, seperti ayam, dan bumbu lainnya. Malam kemarin saya ditraktir ayam goreng di resto Uzbek Chacanaya KRW 6.000 lagi-lagi dipaksa gratis. Sedangkan saya aga berat kenapa, karena saya orang yang tidak terbiasa menerima "free lunch". Mereka hanya bilang, "A good relationship is more than money." :)




Keenam, pulanglah saya ke kandang hehe :) Kami naik taksi lagi dari Daejeon terminal. Dan dipaksa gratis lagi. Kali ini mereka mengajak masak di dapur kembali. Cuma kali saya ingin makan sendiri di kamar. Hehe karena lelah di badan pasti.




Begitulah cerita travel lokasi pertama saya di Daejeon bersama "Three Idiot" Film Boliwood yang keren itu. :) Next, nantikan tempat-tempat rekomendasi lainnya ya!




"Tuhan, aku tahu
segala tempat milik-Mu

dan izinkanlah aku
menyetubuhi segala itu."




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa South Korea Kali Pertama

Tidak ada rasa berdebar yang terlalu dalam sebelum keberangkatan. Tidak banyak waktu yang bisa ditarik longgar, jika waktu terbuat dari karet. Karena sebelumnya, Alhamdulillah. Saya mengikuti Summer School Program di Netherlands, total hari selama perjalanan Eropa hampir sebulan. Di lain halaman saya akan bahas juga insha Allah, saat perjalanan ke daratan yang sepenuhnya datar itu. :) Kepulangan dari Eropa yakni tanggal 06 Agustus 2016 dan saya harus kembali berangkat untuk program student exchange tanggal 14 Agustus 2016 selama 3-4 bulan ke depan. Ini akan menjadi rekor baru, tidak pulang ke rumah selama itu di daratan yang sangat berbeda. Di pisah lintasan darat dan udara.

Tips Mengurus Visa Republic of Korea

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya saat  mengapplied visa di kedutaan besar Republic of Korea di Jalan Jendral Gatot Subroto Kav. 57. Menyiapkan visa untuk   student exchange program selama satu semester. Di usia menginjak kepala dua, saya sudah merealisasikan beberapa target besar juga, mengunjungi kedutaan Belanda dan South Korea. Alhamdulillah . Kenapa menyiapkannya sendiri ? Pertama, ini menjadi ingatan dan kesempatan luar biasa untuk merasakan bagaimana proses pelamaran visa international. Kedua, mengenai prinsip . Being independent is better than being dependent in everything. Ketiga, sebagai uji ukur mental juga menariknya menyiapkan sesuatu sebagai pengetahuan baru, pengalaman baru. Apa saja yang harus disiapkan, apa yang terjadi, dan bagaimana prosesnya? Pertama, sebelum keberangkatan minimal waktu persiapan aman dua sampai tiga minggu. Saat itu saya baru...

Hectic Day is Beginning !!

Briefing situation in Wonderlabs Yap! Kesibukan sebagai bagian team bagian perusahaan start-up pun dimulai! Tidak mudah untuk berjam-jam duduk di depan laptop untuk mencari dan mengolah data untuk memenuhi kebutuhan clients.  28 May, 2017 kami memulai agenda kerja hari ke tiga : - Preparing presentation for marketing and promotion strategy - Presentation in front of the CO-CEO, Keith Tan. - Presentation in fornt of Mas Damar as the leader of our project. Tidak semua dari team kami berkesempatan secara video conversastion dengan Keith mengadakan presentasi. Karena jam beliau yang begitu sibuk dan padat. Sosok muda di usia 28 tahun sudah memiliki perusahaannya di tiga negara, Singapore, Australia, dan Indonesia. Inspiring! 29 May, 2017 kami memulai agenda kerja hari ke empat : - Mas Damar gave ask new assignments; Rexy and Asri in Mock up design, Ocha and Dianty did not change; Ocha in Talent acquisition and Dianty in Content Development. I am in Market Rese...