Tidak ada rasa berdebar yang terlalu dalam sebelum keberangkatan. Tidak banyak waktu yang bisa ditarik longgar, jika waktu terbuat dari karet. Karena sebelumnya, Alhamdulillah. Saya mengikuti Summer School Program di Netherlands, total hari selama perjalanan Eropa hampir sebulan. Di lain halaman saya akan bahas juga insha Allah, saat perjalanan ke daratan yang sepenuhnya datar itu. :)
Kepulangan dari Eropa yakni tanggal 06 Agustus 2016 dan saya harus kembali berangkat untuk program student exchange tanggal 14 Agustus 2016 selama 3-4 bulan ke depan. Ini akan menjadi rekor baru, tidak pulang ke rumah selama itu di daratan yang sangat berbeda. Di pisah lintasan darat dan udara.
Perpisahan dilepas dengan doa dan acara syukuran. Hanya keluarga inti dan mengundang perwakilan beberapa sahabat yang bergiat dalam komunitas relawan sosial, pendidikan (Om Ugih, Om Said, dan Om Atep). Ada Ayah Ibu saya sudah pasti, Om Bayu, Bi May, Om Rohman, Dua adik saya, Rifaldi dan Zafira, Keponakan De Rasya dan De Safa, beberapa kariawan di rumah, tak kalah penting guru agama saya Ust. Edi dan Ust. Atep yang ikut melepas dan memberi petuah mengenai pentingnya menjaga identitas sebagai muslim. Terlibih South Korea merupakan negara yang mengakui dua agama yakni, Christianity dan Buddhist.
Jujur, saya menganggap setiap pilihan yang bagi kebanyakan orang, besar, saya sikapi dengan hal yang akan berjalan biasa. Tidak berlebihan dan seolah semua bisa saya kendalikan. Begitu sugesti yang kerap saya genggang. Waktu bisa kita rencanakan dan berusaha dalam kendali, tapi Tuhan yang memutuskan. Kita mengirimi proposal dan mengerjakan Job Task dengan sesuai karakter kita. Rasa Tuhan tidak sama dengan Rasa manusia, sebab Ia lebih merasakan segalanya, dan kita jauh lebih kecil, sekalipun rasa kita miliki sebagai bagian yang mempengaruhi menariknya hidup.
Saat sampai di Kota Tasikmalaya, Kampung Halaman di hari Sabtu. Seninnya saya harus bergegas menyiapkan perpanjangan paspor. Ayah saya mengantarkan saya dengan semangat.
Detik-detik menjelang pembuatan Visa, Ayah juga Ibu mengantar karena salah satu bisnis mereka ada di Jakarta jadi saya bisa ikut dengan mereka. Semua berjalan normal. Entah kenapa tidak ada secuil pun rasa kekhawatiran dan ketakutan. Saya cuma benci mengingat kesedihan. Sedih jika menimang saya memiliki Nenek dan Kakek yang begitu memanjakan saya
Sebelum keberangkatan, dengan mendadak saya perlu membeli laptop baru. Uang yang sudah lama saya tabung, harus saya kuras perlahan kembali. Untuk mendapatkan barang yang akan benar-benar menjadi karib saya ke depan. Tentu dalam segi pemilihan, saya termasuk sangat selektif. Dan harus rela menabung lebih lama, asalkan dapat barang yang nyaman saya gunakan. Kali ini 50:50, dari ortu sebagian. Dari Mac Pro ke Mac Air. Dan inilah yang membuat saya begitu kewalahan karena di saat bersamaan harus mengambil visa, belum instalasi, dan macetnya jakarta. Dengan gojek teman setia transportasi umum saya di Jakarta.
Teng! Saya sudah sampai di Bandara Soeta. Ayah dan Mama saya menemani. Di sana bertemu dengan Dianty, yang juga akan melaksanakan student exchange program. Saya menemui kelurga Ririn, entah kenapa. Saya perhatikan, mereka berpelukan dan menangis. Saya melihat jauh ibu saya menunggu di sana. Apa saya juga akan menangis di sini?
2 jam sebelum keberangkatan, saya sempatkan makan di
Saat mereka sudah pergi, saya bilang ke Ririn (panggilan Dianty) "Rin, ini bentar kan ya. 3-4 Bulan waktu yang sebentar kan..?" Pertanyaan retoris.
![]() |
| Dianty & Me |
Teng!
Akhirnya kami tiba di Incheon International Airport. Di sana sudah ada perwakilan yang menunggu. Mengantarkan kami untuk membeli beberapa tiket. Pertama kali membeli tiket Bus 9D jurusan Dejeon seharga KRW 24.400 perhalanan kurang lebih 3 jam dan Busnya termasuk sangat nyaman. Untuk mengetahui Kursnya ambil pembulatan (23.100 x 12 = 277.200).
Kemudian, kami sampai di terminal Daejeon dan melanjutkannya menggunakan Taksi ke SolGeo (International Student International) rata-rata kami meronggoh KRW 6.000. Tips jika membawa barang banyak dan tidak sendiri, sebenarnya memilih taksi bisa jadi cara hemat juga asalkan kita juga memikikan quantity pembaginya alias passager hehe. Namun apa boleh buat, karena bawa koper besar ya Taksilah satu-satunya pilihan terbaik untuk tourism yang membawa banyak bawaan dan kali pertama menyentuh daratan Negeri Gingseng ini.
Mengutip dari Wikipedia, "Daejeon merupakan kota terbesar kelima di Korea Selatan. Penduduknya berjumlah 1.438.778 jiwa (2003) sementara luasnya adalah 539,84 km². Kota ini menjadi tempat penyelenggara Piala Dunia FIFA 2002."
Daejeon berada di kota yang ramai bangunan, tapi tak begitu seramai orang-orang di dalamnya. Tadinya, saya berharap. Saya dapat melakukan traveling sendiri. Alhasil hanya gigit jari. Kesulitan pertama datang ke tempat yang awalnya saya tidak sukai ini, jenis aksara yang berbeda, dan orang-orang di sini mayoritas tidak bisa berbicara bahasa inggris. Tips, list dan coba hafalkan dan bahkan tuliskan dicatatan kecil untuk kalimat-kalimat basic. Hafalkan kata-kata penting, salah satunya makanan yang misal dijauhi karena alergi dan lainnya.
Untuk makanan sudah tidak bisa diragukan lagi, enak-enak :D Hanya saja saya memiliki banyak
Di waktu awal saya mengalami kesulitan penarikan uang dari ATM, Tips lebih baik persiapkan lebih banyak uang cash dari asal negara. Kenapa? Pertama, tidak mudah mencari beberapa mesin ATM yang bisa mengakses misal Mandiri Visa bisa diambilnya di ATM KB Bank. Sekalipun beberapa ATM berlogo global service namun tetap ada perbedaan jenis teknologi dan kartu misal IC card untuk Hanna Bank (Bank lokal terbesar). Belum lagi Kurs yang biasanya untung-untungan belum biaya admin penarikan. :)
![]() |
| SolGeo Resident |
Kemudian, untuk pengeluaran hidup di sini relatif lebih besar. Beda hal ketika saya di Belanda, rasanya lebih murah di sana. Dan jarang saya temui orang lokal yang ramah. Hampir semua melengkungkan bibir ke bawah. Sukar mencari sahabat, karena saya datang terlalu cepat ternyata. Seharusnya minggu depan saya datang. Kemudian, saya mengkhawatirkan kondisi ayah saya yang sedang sakit di sana. Tidak berhenti pikiran dan bathin diuji di sini. Tips hidup hemat akan saya bahas di halaman selanjutnya ya! Insha Allah.
Namun alhamdulillah, satu persatu mengenali banyak teman-teman baru yang merubah rasa South Korea dari Uzbekistan, India, Korea, China (terbanyak setelah mahasiswa lokal).
Tidak mudah beradaptasi dengan hal yang tadinya tidak disukai. Tapi menyenangkan mengkhayati waktu yang berlangsung. Diri yang begitu unik. Sudah berhasil sampai menakhlukan banyak ketakutan dan tuntutan.
------------------------------------------
Tuhan maafkan aku,
kata seorang hamba kecil
pada Tuhan-nya.
Kuatkan aku
jika itu ingin-Mu.
------------------------------------------






Komentar
Posting Komentar