 |
| Namsan Tower, Seoul, South Korea (2016.09.17) |
Kembali melatih tulisan. Hari ini hari kali pertama selama berada di Korsel, hujan dengan intasitas lebih besar dari sebelumnya. Biasanya hanya gerimis atau hawa mendung yang masuk sampai ke tulang. Iya, mendapati kabar duka dari tanah air, Garut. Terkena banjir bandang, terakhir korban yang ditemukan meninggal di angka 33 jenazah. Bukan main kagetnya, karena selama ini Garut memang dikenal dengan dataran yang lebih tinggi. Akan tetapi yang namanya musibah, bisa menimpa siapa dan apa saja. Namun yang disangkan adalah kurang pemerhati pemerintah setempat dalam merawat main insfrastruktur publik, apalagi yang berhubungan dengan tanggul dan sungai di musim hujan.
Status awal hari yang ditulis dalam facebook :
"di sini juga hujan akhirnya. padahal seharusnya masih panas. tapi air mata dari korban-korban terbawa angin ke mari juga. jika aku menjadi lembaran baru dalam harian korea selatan, ingin rasanya menuliskan betapa gagahnya bumi parahiyangan saat itu."
***
Pertama, hari ini menjadi warna yang cerah juga.
Baru lagi kali ini saat Professor Hassan dari
Turkey yang pernah saya ceritakan sebelumnya
mengumumkan Quiz
pertama dalam Computer Literary dengan angka bulat A hundred, hanya seorang yang mendapatkan nilai
lengkap itu,
alhamdulillah.
Jumlah soalnya hanya sebanyak tiga
pertanyaan esai,
kemudian beberapa mulai berseru "
You are the perfect score!". Rata-rata
kelas 59.
Jadi sangat bersyukur,
menjadi spirit yang
baru. Tidak ada yang sia-sia dalam giat dan tekun, sekalipun harus ditukar dengan waktu "main yang menyenangkan di mereka". :)
Namun bagian sedihnya, saat Professor menyuruh saya diam karena terlalu aktif menjawab. Saya merasa sedih iya, sambil menghibur hati "tidak baik mendominasi sesuatu.". Jadi saya menahan diri, semakin diam di dalam.
Kedua,
dalam Marketing and Sales for Hospitality Management. Prof. Zorica
dari Serbia. Sosok perempuan yang begitu bersahaja, dengan rambut yang hampir putih sempurna. Dengan jaket tenun tipis, dalaman baju, dan celana panjang formalnya.
Ia berkacama juga. Saya mudah mengantuk sejujurnya dalam kelas ini. Karena beliau selalu berusaha memahami kemampuan mahasiswanya di kelas rata-rata seperti apa. Jadi, ia selalu berbicara dengan tempo yang lambat ini yang membuat saya lebih lelah mendengarkannya. Namun sangat menyenangkan mengenal beliau yang begitu amat ramah.
Sangat welcoming.
Setelah kelas usai, Prof Zurica mendekati saya. Intinya ia kagum orang-orang Indonesia yang ia temui baginya memiliki kemampuan berbahasa inggris yang lebih baik menurutnya. Kemudian, karena ia seorang manager dan memiliki banyak pengalaman diberbagai negara, ia bercerita betapa ia tertariknya pada Indonesia, karena ia pun memiliki banyak pekerja berasal dari Indonesia sekitar 60 orang. Yang membuat saya terharu sore
ini, ia
kerap menanyakan kabar. Ia melihat ada yang "salah" atau "berubah" dalam diri saya. Ia khawatir saya memikirkan sesuatu secara berlebihan atau "sakit". Baru kali ini saya mendapatkan Professor yang begitu perhatiannya di sini. Saya diajak untuk ngopi bersama beliau. Jujur, itu
sangat menyentuh sekali.
Di Korea Selatan sendiri di mana
hierarcy masih begitu kuat.
Pengklasifikasian status. Dan
tittle di sini sangat penting. Kami tidak
boleh memanggil nama
kepada Lecturer. Hanya Professor.
Beberapa Lecturer begitu membatasi "
jarak". Hal ini yang membuat saya cukup tidak nyaman. Saat saya bertanya yang berhubungan dengan materi pelajaran. Beliau tidak pernah menjawabnya hanya membacanya (menggunakan whatsapp). Padahal nomer itu ia berikan sendiri atas izinnya. Kemudian di kelas setelah kelas berakhir ia ingin berbicara dengan saya berdua. Beliau menjelaskan, "Saya seolah berlaku dingin dan tidak membalas pesan. Karena saya ingin berlaku "adil" pada siswa lainnya. Saat ini kamu adalah siswa saya, saya adalah professor kamu.", jujur saya merasa ganjil saja dengan apa yang ia katakan. Pertama untuk apa ia memberikan nomer telepon. Kedua, pertanyaan saya yang menyangkut topik saat saya tidak bisa masuk kepertemuan itu. Ketiga, mengapa begitu takut untuk berteman dengan mahasiswanya sendiri. Bukannya ketika menjadi akrab, akan semakin mudah siswa mencerna dan akan semakin menyenangkan. Itu kenapa yang membentuk karakteristik siswa dan siswi di sini begitu diam dan kaku rata-rata.
Kemudian saya pergi ke
english lounge berniat mengerjakan
homeworks yang baru diberikan tadi.
Di dalam ternyata ada Professor
baru. Kemudian kami berdiskusi banyak hal. Namanya Professor Maria dari Kenya, dengan karakteristik orang Kenya tentunya, dengan rambut yang mengingatkan saya pada musisi rege. Ia sudanya banyak tinggal dibanyak negara juga.
Terakhir adalah Taiwan.
Mengajar. Dunia mengatakan jika Taiwan itu miskin.
Namun ia rasakan, standard of living cost
di sana begitu nyaman. Tidak ada orang yang menjual barang bekas. Tiap hari orang-orang makan di luar karena biaya yang sangat terjangkau. Ia menemui banyak orang Indonesia dan kagum karena banyakk orang Indonesia yang sangat cerdas berbicara bahasa inggris dan chinese. Namun ia menyayangkan beberapa yang ia temui tidak bisa pulang. Karena makelar ilegal pengiriman/pengrekrutan. Memang gajih sesuai misal dengan kontrak. Namun banyak uang masuk diserap makelarnya jadi hanya sebagian kecil yang masuk ke saku pekerja.
Miris. Ini sudah berlangsung lama, para pekerja indonesia terkadang nakal karena butuh. Nakal rela pergi berharap mendapatkan pemasukan lebih baik ke luar negara dengan mengikuti makelar ilegal.
Hmm.. begitulah cerita hari ini.
Terima kasih Tuhan
untuk segala kebaikan
yang masih Kau jaga.
Daejeon, 27 Septermber 2016
Komentar
Posting Komentar