Hening. Begitu suasana yang begitu menyesap terasa. Islam sebagai agama minoritas, tidak membuat pemerintah setempat memberikan "tanggal merah" untuk melaksanakan ibadah sunnah di pagi harinya. Tidak ada kubah mesjid atau kumandang takbir yang paling dirindukan saat menanti Idul Adha datang. Eid Mubarak.
Di sini, saya menyadari kalau Indonesia begitu indah oleh karena konsep dan gagasan besar yang menguatkan nilai-nilai berbangsa. Hanya dalam aplikasi yang masih perlu dibenahi. Namun, jujur semakin saya pergi ke beberapa negara di luar, semakin saya mencintai dan ingin berkontribusi lebih besar untuk negara saya, Nusantara.
Sebelum melanjutkan, perkenalkan kembali. Saya Affrilia berstatus sebagai Mahasiswi di Jurusan International ICT Business Management, Telkom University yang sedang mengikuti program pertukaran pelajar (Student Exchange) selama satu Semester di Woosong University, Daejeon, South Korea. Alhamdulillah, Mendapatkan full scholarship tuition fee.
Tidak sedikit yang mengidamkan untuk pergi dan menetap di Korea Selatan. Entah karena dunia perfilman yang diminati banyak kaum muda, produck kecantikan, operasi plastik, K-Pop, makanan tradional, bertemu idola, dan sebagainya.
Mengutip penjelasan dari Wikipedia, "Republik Korea (bahasa Korea: Daehan Minguk (Hangul: 대한민êµ; Hanja: 大韓民國);bahasa Inggris: Republic of Korea/ROK) atau biasa dikenal sebagai Korea Selatanatau Korsel adalah sebuah negara di Asia Timur yang meliputi bagian selatan Semenanjung Korea. Di sebelah utara, Republik Korea berbataskan Korea Utara, di mana keduanya bersatu sebagai sebuah negara hingga tahun 1948."Di judul berikutnya, akan saya bahas mengenai pengalaman Cultural Shock yang saya rasakan di sini. Namun, dengan kesabaran dan keteguhan pada tujuan di awal tentu itu yang menjadi dorongan talak untuk tetap berjuang. Karena Tuhan memberikan ujian dengan mengetahui kemampuan yang ada pada mahkluk-Nya. Penderitaan itu menguatkan. Sedih itu hanya jarak spasi untuk menemui bagian awal kebahagiaan setelahnya.
Tidak terasa, idul adha tiba. Namun, kini saya tidak berada di rumah, berkumpul dengan keluarga, menyalami kerinduan karena keluarga lalu berkumpul, mendengar talu-talu anak-anak bertakbir mengeliling komplek sekitar, kemudian menyaksikan "Qurban" dan orang-orang datang membantu membagikan senyuman.
Di kampus tadi, rasa hilang saya cukup terobati. Dua profesor saya, Prof Ryan Kozbial dari Canada yang mengajar dalam kelas International Marketing menyapa saya dengan ramah, menyakan mengenai ritual Idul Adha dan bahkan setelah pelajaran pun, kami pergi bersama ke student lounge beliau memberitahu tips untuk mencari buku di online shop (karena di sini sangat begitu sukar mencari buku berbahasa inggris, ada-ada di Seoul dan itu cukup jauh dari sini. Kemudian kami bicara ke sana ke mari. Beliau Profesor yang sangat menyenangkan karena dengan tubuh yang seperti pegulat atau saya memanggilnya Tn. Incredible salah satu figuran dalam animasi.
Kemudian, saya berkenalan dengan Profesor Hani, ternyata beliau sudah di Indonesia selama tujuh tahun mengajar di TBI. Pantas tiap berpapasan walaupun kami belum saling mengenalkan diri, beliau paling rutin menyapa dengan, "Selamat pagi!", "Apa kabar?" dan terakhir bertemu tadi saat berpapasan, "Selamat Ied adha!" dengan accent yang khas! Kemudian kami saling mengenal dan berbicara mengenai pengalaman dan tempat-tempat.
Oh iya, saya pun bertemu dengan Lecturer muslim dari Turki, Prof. Hasan Tanmiz dalam Computer Literacy Class. Beliau yang memberikan saya hadiah berupa sejadah yang kerap saya gunakan kini. Alhamdulillah. Setiap kebaikan dan ketulusan menemui kebaikannya. Aamiin.
Di Solgeo, Saya mengenali beberapa orang Banglades, mereka muslim. Mengajak saya untuk makan merayakannya bersama mereka. Masak di Kitchen. Namun karena berhalangan mereka mengirimi gambar dan menyakan kembang api di malamnya.
Di sini, hening begitu menyesap. Tidak ada perayaan apapun. Hanya rindu yang kini bertalu. Kemudian saya membaca, Tuhan dalam kenangan. Berpikir seolah Ia merupakan entitas yang kita temui setelah matinya usia di bumi. Dalam imajinasi, Tuhan sedang menunggu kita di suatu tempat yang rahasia. Namun, sejak kecil guru agama saya kerap bilang, Tuhan ada di dalam imanmu. Selama kamu menaruh iman di dalam jiwamu, di sanalah Tuhan selalu mendekap dalam percaya. Dan ia tidak hanya bermukim pada rahasia di depan, namun juga tiap kenangan.
"Sesungguhnya Allah SWT mencipatakan rahmat, pada hari penciptaannya Allah SWT menciptakan 100 rahmat, kemudian Dia menahan disisi-Nya 99 rahmat, dan melepeskan untuk seluruh ciptaannya satu rahmat. Jadi, jika orang kafir mengetahui seluruh rahmat yang ada pada sisi Allah SWT, maka dia tidak akan putus asa dari (mendapatkan) surga, dan Jika seorang yang beriman mengetahui seluruh bentuk azab yang ada pada sisi Allah SWT, maka dia tidak akan merasa aman dari neraka". (HR. Buchari)
Saya menitikan air mata, selama ini sebagian besar waktu saya disibukan dengan hal-hal berhubungan dunia. Mengejar nilai setinggi-tingginya, belajar belajar belajar, berdiskusi intelektual, membaca buku-buku keilmuan dan sedikit filsafat, berlari agar membuktikan diri kita di atas rata-rata manusia biasa dengan segala peraihan material success yang lebih tinggi pengejarannya dibandingkan spiritual success.

Rasa kehilangan membuat diri menemukan seberapa penting keberadaan dan keterpedulian satu dan lain. Keluarga. Mereka yang tidak pernah bersembunyi atau pun menjauh saat anaknya membutuhkan sesuatu yang menyangkut kebutuhan. Perasaan juga kebutuhan. Mentalitas juga kebutuhan. Kesehatan tubuh juga kebutuhan. Nilai ini yang kerap saya pelajari, saat pilihan saya untuk mengejar ilmu setinggi dan sejauh-jauhnya. Sampai saya merasa begitu dekat dengan Tuhan.
---------------------------------------
Tuhan..
Jagailah mereka
Sepertiku yang merawat
kenangan yang hidup
---------------------------------------
Af.
Daejeon, 12 September 2016


Memiliki kemampuan pemaknaan dibalik setiap jengkal alur kehidupan merupakan kecerdasan yg tidak semua orang miliki...pemaknaan yang berujung pada pemahaman akan hakikat diri dan penciptaannya,pemaknaan bahwa sehebat apapun kita tak lebih hebat dari kalam Alloh yang pada akhirnya kita kembali pada NYA...happy eid mubarok kk :-) keep fight
BalasHapusTerima kasih Ust. Atep sudah memberi sebagian waktunya di sini dan apresiasinya. Aamiin.. ;)
Hapuskeren af tulisannya. diksimu yg selalu kusuka seperti rangkaian nada dalam sebuah lagu yg indah. kisah yg bermakna dan penuh hikmah. semoga tak bosan menebarkan kisah2 lainnya. kutunggu itu yaaa hehehe.... semoga perjuanganmu ada hasilnya. keep smile
BalasHapusAamiin yrb. Terima kasih Bu Yayu Arundina untuk apresiasi dan semangatnya! Ditunggu kehadiran berikutnya tentunya. ;)
Hapus